Surabaya,locusdictinews|Komitmen PT Trofi Fajar Timur Sakti dalam merealisasikan program strategis Buka Djagad Anyar kian matang. Program kolaboratif ini mendapat dukungan penuh dari PT Jawapes Indonesia Semesta, Firma Kantor Jasa Consultant Nasional, PT Tritunggal Aji Jaya, PT Hilal Vina Jaya, serta PT Karya Inti Nusantara Makmur.
Program Buka Djagad Anyar dirancang sebagai gerakan terpadu pengembangan UMKM, wisata edukasi berbasis budaya, serta ketahanan pangan berkelanjutan. Program ini juga memfasilitasi akses permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi pelaku usaha yang memenuhi ketentuan, dengan dukungan kementerian terkait desa tertinggal.
Selain dukungan korporasi, program ini diperkuat oleh Yayasan Jawapes Indonesia Emas, Yayasan Wangsa Negara, Yayasan Djagad Surya Krahayon, serta Yayasan Surya Trisno Sejati.
Direktur Utama PT Trofi Fajar Timur Sakti, M. Samsul, menegaskan bahwa seluruh kesepakatan strategis telah rampung. Kerja sama dengan mitra, termasuk sejumlah bank pendukung KUR, telah disepakati dan siap dilaksanakan.
“Kesepakatan kerja sama sudah dilakukan seluruhnya, kini tinggal masuk tahap pelaksanaan teknis di lapangan,” tegas Samsul, Sabtu (18/01/2026).
Direktur Utama PT Jawapes Indonesia Semesta, Rizal Diansyah Soesanto, ST, CPLA, menyatakan program ini bertujuan membangun kawasan mandiri yang berkelanjutan.
“Buka Djagad Anyar diarahkan untuk membangun kawasan mandiri dengan mengedepankan kearifan lokal sebagai kekuatan ekonomi dan identitas masyarakat,” ujar Rizal melalui pesan WhatsApp nya.
Direktur Utama Firma Kantor Jasa Consultant Nasional, Marhaban, menambahkan bahwa program ini berskala nasional.
“Pelaksanaan awal dimulai dari Pacet Mojokerto, kawasan Kawi Malang, dan Jogorogo Ngawi,” jelasnya.
CEO PT Tritunggal Aji Jaya, Dr. Suwito, SH, MH, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan telah dimulai sejak 4 Desember 2025 melalui prosesi ruwatan di setiap lokasi pembangunan.
“Ruwatan merupakan doa bersama dan penghormatan terhadap nilai budaya serta kearifan lokal agar pembangunan berjalan selaras dan membawa manfaat bagi masyarakat,” terangnya.
Prosesi ruwatan dikemas sebagai edukasi budaya yang menampilkan wayang kulit, reog, bantengan, jaranan, barongsai, serta tasyakuran atau tumpengan sebagai wujud rasa syukur.
Dari sisi teknis, Direktur Utama PT Hilal Vina Jaya, Harja, memastikan seluruh persiapan telah matang.
“Perencanaan kawasan, layout lokasi, hingga Rencana Anggaran Biaya atau RAB sudah disusun dan siap dieksekusi,” ungkapnya.
Ketua Yayasan Djagad Surya Krahayon, Bunda Rini Condro Kirono, menegaskan bahwa pengelolaan wisata akan melibatkan masyarakat desa.
“Kami telah menyepakati kerja sama pengelolaan wisata dengan BUMDes dan membuka ruang kolaborasi bagi pihak-pihak yang ingin berpartisipasi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Surya Trisno Sejati, Riaman, menyampaikan bahwa kegiatan budaya akan terus digelar sebagai penguatan identitas kawasan.
“Besok, Minggu (19/01/2026), kami menggelar Djagad Surya Trisno Sejati di Dusun Losari, Desa Sidorahayu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang,” ujarnya.
Acara diawali kirab budaya reog, bantengan, dan barongsai, dilanjutkan sambutan serta prosesi potong tumpeng. Kegiatan ini juga menjadi momentum penandatanganan kerja sama pengelolaan Djagat Winggit, Djagat Budaya, dan Djagat Palet Wisata UMKM di kawasan Kawi Mahardika, Malang.
“Acara ini menghadirkan pembicara tokoh budaya nasional, Eyang Prof. Djatkusumo atau Mbah Djito Akar Mojo, yang akan menyampaikan nilai kebudayaan dan filosofi kemandirian kawasan,” pungkas Riaman.
Gelombang dukungan terhadap program Buka Djagad Anyar terus menguat dengan bergabungnya Paguyuban Papan Kasunyatan Bhawana Tunggal, Padepokan Semut Gliyeng, Madura Asli (MADAS), Nuswantoro Bangkit, Padepokan Sabdo Jagat Sejati, serta Yayasan Reksoati Caktya Jati Nusantara.
Jika rakyat bersatu dan saling mengisi dalam mengolah potensi daerah menjadi kawasan mandiri, maka ketergantungan terhadap pihak luar dapat ditekan, lapangan kerja tercipta, ekonomi lokal tumbuh kuat, serta kesejahteraan masyarakat meningkat secara berkelanjutan tanpa kehilangan jati diri budaya dan kearifan lokal.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan menjadi model pembangunan nasional berbasis budaya, ekonomi kerakyatan, dan kemandirian desa yang berkelanjutan.
(Red)












